Skala dan Simbol Arsitektur
25
Okt

Skala dan Simbol Arsitektur

Skala dan Simbol Arsitektur

Skala dan Simbol Arsitektur: Dalam gambar kiat maupun gambar yang dipakai sebagaimana umumnya, pemakaian simbol yang dilengkapi dengan notasi dan skala, paling umum dipakai untuk mewakili sebuah keadaan, situasi atau arti tertentu dari obyek/benda tertentu.

Baca juga: Cara Menggambar dan Huruf Tipografi Arsitektur

Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah dari suatu obyek tertentu. Simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya dan dapat digunakan untuk keperluan apa saja. Simbol dalam dunia konstruksi, yang terwujud dalam gambar teknik, telah menggunakan aturan-aturan gambar teknik secara universal.

Simbol dalam arsitektur digunakan untuk mencerminkan suatu material atau bahan konstruksi yang digunakan, laksana material atau bahan bangunan: kayu, batu bata, batu kali, besi, beton, plastik, maupun jenis material lainnya. Selain dipakai untuk tanda material atau bahan tertentu, simbol pun dapat digunakan untuk mewakili tanda dari sebuah sistem instalasi, baik mekanikal maupun elektrikal. Beberapa misal material atau bahan konstruksi yang telah disimbolkan antara lain, kayu, batu, dinding pengisi, dan beton.

Skala dan Simbol Arsitektur: 1. Kayu

Material atau bahan kayu ialah material yang paling tidak sedikit digunakan dalam industri konstruksi. Bahan dasar kayu berasal dari pohon yang diubah menjadi bermacam-macam ukuran dengan pelbagai kualitas kayu.

Material atau bahan kayu dipakai pada industri konstruksi guna struktur bangunan, seperti: tiang kayu (kolom), balok lantai, kuda-kuda, maupun guna material yang mempunyai sifat non-struktural pada bangunan, laksana pintu, kusen pintu, dan jendela, lantai kayu (parket), plafon (langit-langit), maupun sebagai material atau bahan finishing dan furniture, laksana meja kerja, meja tamu, kursi, dan lainnya.

Material atau bahan jenis kayu yang sering dipakai sebagai kayu balok (ukuran lebar/tinggi: 6/1 2; 8/1 5; 5/7; 2/3), dan papan (3/15; 3/20, dan ukuran lainnya).

Skala dan Simbol Arsitektur: 2. Batu

Material atau bahan beda yang tidak jarang digunakan ialah material jenis batu-batuan. Jenis batu-batuan sangat pelbagai dan mempunyai tekstur serta warna yang pelbagai pula. Seperti halnya material kayu, bahan jenis batu pun dapat digunakan sebagai struktur bangunan (yang menopang berdirinya suatu bangunan), maupun dapat digunakan sebagai bahan (dinding) pengisi serta bahan finishing.

Beberapa jenis material yang dikelompokkan dalam jenis bahan batu laksana batu bata dan batako. Proses penciptaan jenis bahan ini melewati proses pencetakan (tanah liat dan sejenisnya), yang lantas dilanjutkan dengan proses pembakaran.

Skala dan Simbol Arsitektur: 3. Dinding Pengisi

Dinding pengisi,sering dinamakan dinding pada bangunan,biasanya memakai material batu bata atau batako. Namun, dengan pertumbuhan teknologi bahan untuk ketika ini sudah hadir material/bahan beda sebagai pengganti batu bata.

Dinding bata seringkali diselesaikan (finishing) dengan memakai plesteran, acian, dan dicat. Oleh sebab itu, simbol guna dinding batu bata. Denah dinding batu bata (dinding bata), dicerminkan dengan teknik memberi arsir pada kedua garis dinding dengan sudut kemiringan 450 bertentangan arah jarum jam.

Untuk dinding bata dengan gabungan plesteran (adukan) biasa dan untuk gabungan adukan transraam (kedap air), ditambahkan arsir dengan kemiringan sudut 450 sehaluan jarum jam.

Skala dan Simbol Arsitektur: 4. Beton

Material/bahan beda yang dipakai ialah beton. Beton merupakan gabungan dari bahan utama semen, pasir, dan batu kerikil/split. Material beton bisa ditambahkan (di dalamnya) dengan material besi bertulang yang bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan dari beton tersebut.

Beton (besi) bertulang adalah komponen bangunan yang dipakai sebagai struktur bangunan yang menopang berdirinya sebuah bangunan. Komponen itu dapat sebagai tiang/kolom, balok maupun plat lantai. Material beton yang didalamnya terdapat susunan tulangan besi, lazim disebutkan/dinamakan dengan sebutan beton bertulang. Contoh beton bertulang.

NOTASI

Skala dan Simbol Arsitektur: Demikian halnya dengan notasi, notasi dalam gambar kiat (konstruksi) ialah bagian yang tak terpisahkan dari satu obyek gambar. Notasi bisa berupa informasi yang sehubungan dengan nama gambar, penjelasan gambar, dimensi/ ukuran dari obyek gambar, laksana panjang, lebar atau tinggi benda, garis ukuran, maupun penjelasan lainnya yang dirasakan perlu.

Perletakan notasi gambar dan kelengkapan informasi lainnya ditaruh sesuai dengan tata teknik perletakan notasi gambar. Informasi lainnya yang butuh disajikan dalam satu kertas gambar diciptakan dalam satu kop gambar. Kop gambar berisikan informasi tentang nama proyek (nama kegiatan), empunya proyek, tempat proyek, nama konsultan perencana/arsitek, konsultan struktur, konsultan mekanikal/elektrikal (M/E)dan informasi lainnya yang sehubungan dengan pekerjaan proyek tersebut.

Informasi yang sehubungan dengan pekerjaan proyek ini penting, sebab melibatkan sejumlah pihak yang memiliki kemahiran yang bertolak belakang serta tanggung jawab keilmuannya masing-masing. Simbol dan notasi dari obyek gambar/benda, dicerminkan dengan memakai skala (ukuran) tertentu sesuai dengan tingkatan informasi yang hendak dicapai. Semakin besar skala gambar, semakin rinci informasi obyek gambar yang disajikan.

Secara rinci, notasi gambar berisikan informasi yang tercantum di luar gambar, yang terdiri dari nama gambar (gambar site plan, denah, tampak, potongan, dll) dan skala gambar, yang mengindikasikan gambar itu digambar dengan memakai skala tertentu, contohnya skala 1 :500, 1 :200, 1 : 50, 1 : 10. Informasi lain ialah yang tercantum didalam gambar, laksana nama ruang, ukuran (dimensi) ruang/jarak, elevasi lantai, dan lainnya.

Notasi dalam gambar bisa dikelompokkan dalam sejumlah bagian:

Skala dan Simbol Arsitektur: 1.  Notasi Kop Gambar

Notasi lembar/kertas gambar, seringkali disebut sebagai kop gambar. Kop gambar mengandung informasi bersifat umum yang sehubungan dengan nama kegiatan/proyek, nama konsultan, dan informasi lainnya. Informasi dalam setiap eksemplar gambar saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Hal ini guna memudahkan untuk pemakai gambar dalam membaca gambar andai ada satu gambar pada halaman tertentu.

Sebagai ilustrasi, disajikan gambar potongan (Potongan A-A) dari satu bangunan, yang mengindikasikan adanya gambar rinci dari konstruksi atap (Detail-1 dan Detail-3) serta gambar rinci pondasi (Detail-2).

Gambar potongan (Potongan A-A)tersebut terletak pada urutan gambar arsitektur eksemplar ke-5 (AR-05). Gambar Detail-1 dan gambar Detail-2, dijelaskan/digambar lebih menyeluruh pada eksemplar (halaman) ke-11.

Demikian halnya dengan gambar Detail-3, yang diterangkan lebih menyeluruh pada lembar/halaman ke-12.

Demikian pun dengan gambar Detail-3 Yang diterangkan lebih menyeluruh pada gambar AR-12. Seperti halnya gambar Detail-1 dan gambar Detail-2, gambar Detail-3 ini yang terletak Pada lembar/halaman ke-12 (AR-12), dipungut dari gambar Potongan A-A yang terletak pada lembar/halaman ke-5 (AR-05).

Skala dan Simbol Arsitektur: 2. Nama Gambar dan Skala Gambar

Informasi gambar yang diserahkan pada eksemplar gambar berupa nama dan skala gambar. Notasi nama gambar dan skala gambar ditulis secara jelas dengan huruf capital (besar). Informasi/notasi nama gambar dan skala gambar ditaruh di bawah gambar.

Skala dan Simbol Arsitektur: 3. Nama Ruang dan Ketinggian (Peil) Lantai

Informasi yang diberikan berupa nama ruang dan ketinggian (peil) lantai ruang tersebut. Contoh detail nama ruang dan peil (ketinggian) ruang pada gambar denah.

Skala dan Simbol Arsitektur: 4. Notasi Dimensi

Kesempurnaan gambar yang sudah disajikan dalam tiap eksemplar gambar butuh dilengkapi dengan notasi dimensi (ukuran) berupa panjang, lebar, atau tinggi.

Notasi dimensi mikro menyatakan jarak atau ukuran dari tiap unit bagian, contohnya jarak antar ruang-dalam dari satu bangunan. Ukuran dimensi mikro pun dapat digunakan untuk menyatakan elevasi dari setiap unit bangunan, misalnya elevasi dari setiap lantai bangunan sampai ketinggian atap.

Sementara notasi dimensi makro mengindikasikan jarak atau ukuran secara borongan dari satu bangunan. Ukuran dimensi makro adalah sederet informasi dari ukuran dimensi mikro.

Skala dan Simbol Arsitektur: 5. Notasi Arah Potongan

Notasi arah potongan memanjang maupun melintang.

Skala dan Simbol Arsitektur: 6. Notasi Material / Bahan Penutup Akhir (Finishing)

Informasi lain yang perlu diserahkan pada gambar ialah notasi material finishing (bahan penutup akhir). Notasi material/bahan pada masing-masing ruangan (dinding, lantai dan plafond) dibedakan dengan pemakaian notasi
bentuk segitiga dan bujur sangkar. Jenis material/bahan diperlihatkan pada eksemplar gambar dengan memakai tabel, yang ditaruh pada lokasi notasi eksemplar gambar (kop gambar).

Penulisan nama material/bahan memakai notasi angka, cocok dengan daftar/tabel materil/bahan finishing yang tertulis di eksemplar gambar (kop gambar). Kumpulan material ini bisa berubah cocok dengan proyek yang dirancang.

SKALA

Skala dan Simbol Arsitektur: Skala adalah perbandingan antara ukuran di peta dengan ukuran sesungguhnya di lapangan. Jenisnya ada skala numerik dan skala grafik.

  1. Skala numerik adalah skala yang ditampilkan dengan simbol angka. Contoh: Skala 1:2.000 Pengertiannya: 1 cm di peta sama dengan 2.000 cm (20 m) di lapangan.
  2. Skala grafik adalah skala yang ditampilkan dalam bentuk grafik/gambar yang menyatakan perbandingan panjang ukuran di peta dengan ukuran sebenarnya di lapangan. Contoh; Skala 1:100.

Besaran rasio skala pada gambar bakal menilai tingkat keakuratan dan kejelasan dari gambar tersebut. Penggunaan skala gambar yang besar (misalnya skala 1: 10 atau 1 : 20) memiliki dominan yang semakin jelas dan detail. Di samping itu, bisa dilengkapi dengan informasi yang menyeluruh tentang gambar itu berupa notasi-notasi gambar. Penggunaan rasio skala guna jenis gambar bisa berbeda-beda, cocok dengan tingkat keperluan gambar tersebut.

Penggunaan rasio skala gambar pun disesuaikan dengan bentuk kertas gambar. Ukuran kertas gambar dicocokkan pula dengan tingkat keperluan pemakaian gambar. Selain memakai skala, baik skala numerik maupun skala grafik, seringkali suatu gambar dilengkapi dengan obyek tertentu yang rentang besarannya (panjang, lebat atau tinggi) dalam ukuran yang umum, laksana tinggi manusia, berkisar 1,60-1,80 m, kendaraan (mobil sedan) dengan panjang 3,50-4,00 m dan lebar 1,80-2,00 m.

Obyek lain, laksana pepohonan pun dapat digunakan sebagai pelengkap dari informasi elevasi suatu bangunan. Diharapkan dengan adanya obyek (baik insan maupun mobil), besaran dari bangunan bisa lebih informatif. Penggunaan obyek insan membantu pembaca gambar bisa memperkirakan elevasi dari ruangan maupun elevasi dari bangunan secara umum.

Jasa Desain Arsitektur Rumah, Kantor, Villa, Apartemen, Hotel dan lainnya

Exacon – Design and Constructions adalah perusahaan yang melayani jasa desain arsitektur di Bandung, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Serang tidak terkecuali di seluruh Indonesia. Exacon berkomitmen untuk menciptakan desain individual dan fungsional untuk memenuhi gaya hidup keluarga klien.


Sekian artikel tentang dasar-dasar menggambar arsitektur dengan judul Skala dan Simbol Arsitektur. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Anda dapat menghubungi kami untuk layanan jasa desain arsitektur. Jasa desain interior, jasa kontraktor bangunan, jasa renovasi bangunan, jasa studi kelayakan dan jasa desain landscape.

Masuk ke halaman kontak atau menghubungi nomor +6281237717715.
Jangan lupa untuk mengikuti kami di media sosial:

Lihat pula: Portofolio proyek jasa desain arsitektur. Jasa desain interior, jasa kontraktor bangunan, jasa renovasi bangunan, jasa studi kelayakan dan jasa desain landscape EXACON – Design and Constructions.


Kata kunci penelusuran: Skala dan Simbol Arsitektur, Arsitek Bandung, Arsitek Jakarta, Arsitek Bogor, Arsitek Depok, Arsitek Tangerang, Arsitek Bekasi, Arsitek Serang dan Arsitek Indonesia.